Penggelapan Saham Untuk Made Adi Wibawa

Penggelapan Saham Untuk Made Adi Wibawa

Peristiwa mengenai penyelewengan jabatan yang masih ramai dibicarakan saat ini yaitu terkait dengan Made Adi Wibawa dimana dia merupakan seorang pemegang kontribusi terbesar atas PT. Simasindo. Dimana penyalahgunaan jabatan tadinya terjadi sejak akhir tahun 2015 hingga saat ini.

 

Kasus penyalahgunaan jabatan ini sangat merugikan terutama untuk PT. Simasindo. Penyalahgunaan tersara-bara ini merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang mempunyai tujuan untuk kepentingan unik. Kepentingan itu bisa keperluan pribadi, orang2 lain / korporasi. Jika tindakan tersebut bisa mudarat secara per-ekonomian maka sanggup dianggap sederajat tindakan penyalahgunaan.

 

Penyalahgunaan manfaat yang dijalani oleh Made Adi Wibawa ini terkait dengan regenerasi SAP dari transaksi pemesanan saham renggangan PT. Simasindo dengan PT. Swiss Dana Kapital menjadi dilakukan per PT. Jatarupa.

 

Jadi dapat dikatakan kalau pembelian reksadana Narada yang seharusnya semula dilakukan oleh PT. Simasindo menjadi dilakukan oleh PT. Jatapura. Sesuatu ini pasti lah menjadi kekakuan karena kapital PT. Jatarupa sebenarnya atas PT. Simasindo. Serta taktik yang kian janggal lagi karena PT. Jatarupa sendiri sebagian luas sahamnya milik keluarga daripada Made Lazim W.

 

Untuk mengatasi hal tersebut telah dibuat surat pada 25 Juni 2019 dimana pemilih saham besar PT. Simasindo tadi sudah dilaporkan di polisi secara nomor surat yaitu Nomor LP/B/0584/VII/2019/Bareskrim. Menanggapi hal ini polisi sungguh mengeluarkan surah yang ditunjukkan untuk berbuat penyelidikan di dalam tanggal 9 Juli yang lalu.

 

Penyelewengan jabatan kecuali dari pemesanan saham tadinya dapat dilihat bahwa beberapa besar jajaran dari tata usaha PT. Simasindo tadi dikuasai oleh ras dari Made Adi W terkait secara manajemen PT. Simasido tadi juga siap laporan yang dibuat sama pihak Gara-gara Efek Kapital Indonesia lawan para manajemen perusahaan tersebut. Adanya kecaman tersebut untuk melihat & meminta RUPS dan Pesan Unit Independen. Sehingga mereka bisa tahu aliran transaksi yang sungguh ada apakah untuk membeli reksadana Narada atau untuk kacung lainnya beserta lebih tentu tentunya. Hati busuk itu memandang betapa leluasanya mereka mengenai dana industri padahal mereka tidak memiliki kewenangan untuk itu.